Kamis, 14 Januari 2010

Pahlawan Nasional Sumatera Utara

RAJA SISINGAMANGARAJA XII
Berdasarkan Keputusan Presiden No 590 tahun 1961
(Sumber Yayasan Museum Pers).

Lahir tahun 1845 di Bakara, Kabupaten Humbang Hasundutan.
Perjuangan yang dipimpin oleh Raja SisingamangarajaXII melawan penjajah Belanda di Tanah Batak berlangsung tahun 1877 – 1907 sehingga terkenal dengan “Perang Batak”. Ketika pasukan Belanda menyerang ke arah Bakara dan Balige, semuanya bisa dihempang, namun Belanda terus mengerahkan seluruh kekuatannya. Tanggal 12 Agustus 1883 Bakkara tempat Istana dan Markas Besar Raja Sisingamangaraja XII berhasil direbut oleh Belanda. Raja Sisingamangaraja XII beserta pasukannya yang setia mengundurkan diri ke daerah Dairi namun perlawanan terus berkobar, walaupun banyak korban berjatuhan. Tahun 1907 di tepi sungai Aek Sibubulon, desa Onom Hudon, perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Dairi Raja Sisingamangaraja XII dan putrinya Lopian gugur tertembak oleh pasukan Belanda pimpinan Christoffel. Sebagai penghormatan kepada raja Sisingamangaraja XII dibangun Tugu Makam Raja Sisingamangaraja XII di Balige.

Dr. Ferdinan Lumban Tobing
Berdasarkan Kepres No 361 tahun 1962
(Sumber dari yayasan Museum Pers)

Lahir di desa Sibuluan, Sibolga, Tanggal 19 Pebruari 1899
Sebagai mahasiswa STOVIA, F.L. Tobing  aktif dalam Gerakan Kebangsaan, dan  aktif di dalam Perkumpulan Jong Batak, Jong Sumatera bersama dengan Moh. Yamin. Pada awal kemerdekaan beliau diangkat menjadi Residen Tapanuli dan kemudian diangkat sebagai Gubernur Militer Tapanuli dan Sumatera Timur bagian selatan. Pada Agresi Belanda II tahun 1948 Sibolga diduduki oleh Belanda, maka Dr F.L. Tobing menyingkir ke Rimba. Agar keberadaannya tidak terlacak oleh Belanda, beliau berpindah-pindah. Peristiwa yang menggemparkan terjadi tanggal 24 Mei 1949 penghadangan terhadap konvoi Belanda dari Sibolga menuju Tarutung. Pada peristiwa tersebut jenderal Spoor tewas, akibatnya  Pemerintah Belanda mengerahkan pasukan besar-sesaran untuk menagkap F.L. Tobing, Kawilarang dan Mayor Maraden  Panggabean, namun usaha tersebut gagal.  Setelah pengakuan kedaulatan DR. F.L.Tobing diangkat menjadi Menteri Penerangan, Menteri Urusan Hubungan Daerah, Menteri Urusan Transmigrasi. Tanggal 2 Oktober 1962 Dr. F.L. Tobing meninggal dunia dan dimakamkan di Sibolga

TENGKU  AMIR  HAMZAH 
Berdasarkan Keputusan Presiden  No 20 tahun 1973 
(Sumber Yayasan Museum Pers)


Tengku Amir Hanzah lahir di Tanjung Pura 28 Pebruari 1911, dari kalangan bangsawan Melayu Kesultanan Langkat. Beliau menempuh pendidikan di MULO Jakarta, dan sekolah menengah Atas (AMS) di Solo tahun 1928. Di kota Solo Tengku Amir Hamzah aktif dalam Pergerakan Kebangsaan menuju Indonesia merdeka. Ketika itu gerakan kebangsaan masih bersifat kedaerahan seperti Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Sumatra dan lain sebagainya.  Ketika Kongres Pemuda Indonesia Muda pertama di Solo tanggal 29 Desember 1930 beliau terpilih sebagai ketua delegasi daerah Solo. Beliau melanjutkan pendidikannya di Jakarta, disamping sekolah beliau  bekerja,   aktif menulis artikel di majalah dan aktif dalam kegiatan organisasi Pergerakan Indonesia Merdeka bersama dengan Pemimpin Pergerakan Nasional dianataranya Bung Karno. Untuk segala aktifitasnya pemerintah Belanda memberi peringatan keras kepada Sultan Mahmud sebagai kesultanan kerajaan Langkat agar  Tengku Amir Hamzah dipanggil pulang ke Langkat.      Pada masa revolusi sosial tahun 1946 di Sumatera Timur, beliau dituduh sebagai kaum feodal, pengkhianat dan kaki tangan Belanda,  beliau dibunuh secara kejam dengan hukum pancung tanggal 20 Maret 1946 di Kuala Begumit, Langkat. Makam beliau berada di  lingkungan Masjid Azizi, langkat. Setelah 27  tahun kemudian Pemerintah mengkaji ulang perjuangan Tengku Amir Hamzah, maka pada tahun 1973 namanya dipulihkan dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional. 

H. ADAM  MALIK  
Berdasarkan Keputusan Presiden No 107 tahun 1998 
(Sumber dari Yayasan Museum Pers)

Lahir di Pematang Siantar 22 Juli 1917. 
Sejak masih remaja Adam Malik telah mengorganisasikan teman-teman sebayanya untuk ikut dalam kegiatan politik di Pematang Siantar. Adam Malik rajin membaca dan ada semboyannya ”membaca buku adalah teman waktu suka dan duka”. Dengan rajin membaca adam Malik telah mampu menulis di Surat Kabar  ”Pewarta Deli” pimpinan Adinegoro. Dalam usianya yang relatif muda Adam Malik telah menjadi Ketua Partai Indonesia di Pematang Siantar. Dalam usianya 18 tahun Adam Malik pergi ke Batavia, dan menjadi penjual buku. Pada waktu Belanda melakukan razia terhadap orang-orang Pergerakan, Adam Malik ikut terjaring sehingga turut dalam penjara selama 1 tahun. Selama dalam penjara Adam Malik selalu membahas mengenai gerakan kemerdekaan diantaranya dengan Pandu Kartawirana. Adam Malik juga salah seorang yang ikut mendirikan Kantor Berita Nasional pada tahun 1937. Dengan melakukan pendekatan dengan Jepang Kantor Berita Antara berhasil menjadi seksi Indonesia Radio ”Domei” Jepang. Adam Malik dan teman-temannya berhasil  memonitor situasi perang Asia Timur Raya, dan Adam Malik orang pertama yang mendengar Jepang menyerah kalah setelah Hirosima dan Nagasaki dijatuhi Bom. Setelah Indonesia merdeka, Adam Malik dipercaya sebagai Duta besar, menteri Koordinator,  Menteri Luar negeri, Ketua Sidang umum ke 26 PBB, Ketua DPR/MPR dan Wakil  Presiden RI.  

ABDUL  HARIS  NASUTION (Berdasarkan Keputusan Presiden No 073 Tahun 2002)

Abdul Haris Nasution seorang Jenderal senior yang selamat dari rencana pembunuhan oleh gerakan 30 September PKI, namun ajudannya bernama Tendean dan anaknya Adik Irma Suryani gugur akibat kekejaman PKI.  Tahun 1932 Abdul Haris Nasution meninggalkan kampung halamannya untuk bersekolah di ”Sekolah Raja” di Bukit. Selesai menamatkan pendidikan  AMS, Abdul Haris Nasution bekerja sebagai guru di Bengkulu dan berkenalan dengan Bung Karno dan aktif dalam gerakan kemerdekaan. Abdul Haris Nasution memasuki Akademi Militer Belanda, dan menjadi pemimpin Organisasi Pemuda di Bandung. Dengan bekal pendidikan militer di zaman Belanda dan Jepang, Abdul Haris Nasution mulai pengabdiannya sebagai tentara untuk mempertahanakan kemerdekaan. Ketika bertugas di Yogyakarta untuk pertama kalinya Kolonel Abdul haris nasution ikut dalam kegiatan  Garis komando yang bersifat nasional. Pernah menduduki  Jabatan sebagai Wakil Panglima Besar, Kepala Staf Operasi Markas besar Angkatan perang Panglima Komando Jawa dalam menghadapi agresi I dan pemberontakan PKI di Madiun serta menghadapi Agresi Militer Belanda ke II. Jabatan terakhir yang diembannya adalah Menko Hankam, Wakil Pangllima Besar, Ketua MPRS di masa Orde Lama. Abdul Haris Nasution sangat berperan dalam kebangkitan angkatan 66.

KIRAS  BANGUN  (GARAMATA) 
Berdasarkan Surat Keputusan Presiden No 082  tahun 2005 
(Sumber dari yayasan Museum pers)

Kiras Bangun lahir di Kampung Karang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo Tahun 1852. Perjuangan Kiras Bangun melawan penjajah Belanda  di Tanah Karo, dikenal dengan  nama ”Pasukan Urung”. Tahun 1902 Pasukan Kiras Bangun menyerang Belanda di Kabanjahe dan menyusul tahun 1903 terjadi pertarungan yang seru di daerah Batu Karang. Belanda cukup kewalahan menghadapi ”Pasukan Urung’. Di Lingga Julu, Pasukan Urung membuat benteng pertahanan untuk Belanda. Benteng pertahanan berupa parit digali sedalam satu meter panjang dan berbentuk zigzag. Di depan paret dipasang ranjau bambu runcing yang ditutup semak-semak daun-daun dan kayu menghadap ke arah kedatangan Belanda. Banyak pasukan Belanda yang terkena ranjau tradisional tersebut ketika hendak menyerang Pasukan Urung. Tahun 1905 Belanda menawarkan perdamaian dengan catatan Belanda tidak menuntut Kiras bangun dan pengikutnya. Setelah Kiras bangun keluar dari persembunyiannya, beliau ditangkap  dan mengasingkannya ke Perladangan Riung, kampung Sidamanik sampai tahun 1909.  Kiras Bangun meninggal dunia tanggal 27 Oktober tahun 1942, dikuburkan  di pekuburan umum Batu Karang.

DR. Mr. TEUKU MOEHAMMAD  HASAN 
Berdasarkan keputusan presiden  No 072 Tahun 2006

DR. Mr. Teuku Moehammad Hasan lahir di Sigli.  Melanjutkan pendidikan ke Batavia dan tamat MULO di Bandung. Setelah Sarjana Hukum di fakultas Hukum di Batavia, tahun 1931 melanjutkan pendidikannya ke Negeri Belanda. Selama di Negeri Belanda T. Moeh. Hasan turut dalam gerakan pelajar Indonesia bersama Bung Hatta dan lain-lain. Selesai pendidikannya di Fakultas Hukum di Negeri Belanda tahun 1933 Mr. T.M. Hasan “dimagangkan” di salah satu departemen di Batavia. Tahun 1938 T.M. Hasan ditugaskan  ke Medan pada Kantor Gouvenur van Sumatera. Mr. T.M. Hasan adalah seorang tokoh yang ikut sebagai annggota persiapan kemerdekaan Indonesia. Pada awal masa kemerdekaan Mr. T.M. Hasan diangkat sebagai wakil pemerintah Pusat untuk Sumatera dan kemudian diangkat menjadi Gubernur Sumatera terhitung tanggal 29 September 1945. Bulan April 1947 Mr. T.M. Hasan memekarkan Sumatera menjadi tiga Propinsi yakni Sumatera Selatan, Sumatera Tengah, Propinsi Sumatera Utara. Sumatera Utara membawahi tiga Karesidenan Tapanuli, Sumatera Timur dan Karesidenan Aceh. Setelah Belanda melancarkan agresi militer ke II tanggal 18 Desember 1948 dan terbentuk Pemerintah Darurat RI di Sumatera ketuanya adalah Syafuddin Prawira Negara dan Mr. T.M. Hasan sebagai wakilnya, merangkap Menteri Pendidikan, Menteri dalam Negeri dan Menteri Agama.

4 komentar:

  1. kita harus menghargai jasa-jasa para pahlawan kita yang telah berjuang demi kemerdekaan dan kebebasan kita

    BalasHapus
  2. PAHLAWAN; BAGAKAN KEBUTUHAN SEHARI HARI YANG TIDAK BISA KITALUPAKAN''''''

    BalasHapus
  3. Sekedar menambahkan, satu lagi pahlawan dari Sumatera Utara yaitu DI Panjaitan (pahlawan revolusi) kelahiran balige, tobasa . Mauliate ..

    BalasHapus
  4. kalau kisah Kolonel Liberti Malau ada yang tahu ga ya

    BalasHapus