Kamis, 22 Desember 2011

Gerakan Nasional Cinta Museum


Pelaksanaan Gerakan Nasional Cinta Museum di Ambarita Kab. Samosir
 
Pagelaran Tari Tradisiona
Kadis Pendidikan memberikan arahan


Museum sebagai pusat pendidikan, penelitian dan rekreasi sangat penting untuk dikunjungi agar kita dapat mengetahui sejarah budaya Bangsa dan diri pribadi. Untuk membuat museum dapat bermanfaat dan layak untuk dikunjungi maka Museum harus dapat berbenah diri dan dapat mengembangkan sarana, prasarana dan berbagau fasilitas sesuai dengan perkembangan zaman sehingga Museum nantinya akan menjadi tempat kunjungan yang sangat penting. Untuk meningkatkan mutu dapat dilakukan dengan berbagai hal diantaranya peningkatan Sumber Daya Manusia, Teknologi dan mutu koleksi yang dimiliki dan dalam penyajian dapat dilakukan dengan berbagai metode diantaranya dengan melakukan Sosialisasi kepada sekolah-sekolah. Dengan digalakkannya Gerakan Nasional Cinta Museum oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata maka pada kesempatan ini Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara melakukan Sosialisasi Gerakan Nasional Cinta Museum ke Kabupaten Samosir dan Kab. Labuhan Batu yang dilaksanakan Pada tanggal 20 - 23 Desember 2011.
ketua kelompok yang terpilih
Di Kab. Samosir pelaksanaan Sosialisasi Gerakan Nasional Cinta Museum dipusatkan di Ambarita dengan jumlah peserta 150 orang siswa SLTP yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kab, Samosir. Dalam sambutannya Kepala Dinas Pendidikan Kab. Samosir sangat menyambut baik diadakannya acara Sosialisasi Gerakan Nasional Cinta Museum yang bertujuan untuk meningkatkan wawasan para siswa mengenai budaya, sejarah dan adat istiadat yang semuanya itu dikelola dan dilestarikan oleh Museum. Para siswa dan guru pendamping sangat antusias mengikuti acara tersebut dan pada kesempatan itu dilakukan pula pengukuhan duta Museum yang dilakukan oleh Kepala Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara, Perwakilan Direktorat Permuseuman dan Pihak Dinas Pendidikan Kab. Samosir. Dalam kegiatan ini para siswa dibimbing dan diberikan pengetahuan tentang museum dan fungsinya sehingga nantinya siswa tersebut dapat menjadi duta museum minimal untuk diri sendiri dan lingkungan sekolah juga tempat tinggalnya pada umumnya. sehingga generasi muda nantinya cinta dan dapat melestarikan budaya yang dimilikinya.



Panitia Sedang membagikan konsumsi
Mendengarkan penjelasan dari instruktur







Senin, 19 Desember 2011

Pesta Budaya Batak di TB. Silalahi Center

Kebudayaan adalah jati diri yang dimiliki orang masing masing budaya sesuai dengan kultur yang dimiliki, dan pada zaman sekarang ini kebudayaan daerah sudah mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Mengingat semangkin minimnya minat generasi muda terhadap kebudayan maka kita wajib mengembangkan dan memumculkan kembali tentang kebudayaan yang kita miliki,.
TB. Silalahi Center dalam ulang tahunnya yang kedua bersamaan dengan ulang tahun bapak TB. Silalahi yang ke 72, maka pada kesempatan ini pula TB. Silalahi Center mengadakan Pesta Budaya Batak yang menampilkan berbagai perlombaan yang sangat bermanfaat bagi generasi muda. Kegiatan tersebut dilaksanakan di TB.Silalahi Center Jl. Pagar Batu No. 88 Balige pada tanggal 16 April s/d 18 April 2010. Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah lomba Maraton, lomba manortor, lomba martumba tingkat anak-anak, lomba Marhasapi (kecapi), lomba mangandung (meratap), lomba paduan suara, lomba maminta gondang, lomba renang dan lomba menangkap ikan. Pada kesempatan tersebut ditampilkan pula tari tradisional batak seperti tari saowan (cawan) dan tari tortor tunggal panaluan.
Acara yang berlangsung sangat meriah dan memiliki nilai penting bagi perkambangan budaya batak dan pada acara tersebut hadir pula Bapak Letjen. Purn. TB. Silalahi dan para pejabat kabupaten yang diundang  pada acara tersebut seperti Bupati Tobasa, Bupati Samosir dan Bupati Tapanuli Utara dan berbagai unsur pemerintah daerah setempat.
Acara ini dilakukan mengingat para generasi muda sudah mulai meninggalkan nilai budaya batak khususnya dan bertujuan untuk menggugah dan mengajak para generasi muda agar mau mencintai budaya dan melestarikan budayanya.
Dra. Masrina R. Silalahi sebagai Ketua Umum TB. Silalahi Center yang pada acara ini  juga sebagai Ketua Panitia Pesta Budaya Batak sangat antusias untuk mengembangkan Museum TB. Silalahi Center dan ingin mengembangkan  juga memperkenalkan budaya Batak Toba khususnya kepada para  generasi muda (pelajar) agar para generasi muda cinta akan budayanya sehingga ia sangat berusaha keras demi suksesnya acara yang dilakukan. Sosok wanita yang satu ini sangat tepat memimpin TB. Silalahi Center karena beliau adalah orang yang cerdas dan bersemangat dalam pengembangan budaya bBatak khususnya demi perkembangan dan kemajuan TB.Silalahi Center dan dari peninjauan yang kami lakukan bahwa Dra. Masrina R. Silalahi ingin menerapkan sistem Teknologi Digital pada  TB. Silalahi Center yang nantinya akan menunjang pelayanan kepada para pengunjung dengan tampilan yang menarik dan berbasis teknologi sehingga TB, Silalahi Center dapat bersaing dengan perkembangan zaman yang semakin canggih. Disamping acara pesta budaya batak tersebut, Bapak TB. Silalahi juga mempresentasikan perencanaan pengembangan TB. Silalahi Center kepada para pejabat daerah yang nantinya diharapkan dapat mendukung pembangunan dan pengembangan TB.Silalahi Center tersebut.
Adapun juara-juara dalam perlombaan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut  :
Lomba Tortor Juara I SMA Sisada Tahi Pandinggaran Lumbanjulu Tobasa, Juara II SMAN 1 Balige dan Juara III SMKN Balige
Lomba Maminta Gondang Juara I SMA Sisada Tahi Pardinggaran Lumbanjulu , Juara II SMAN 1 Balige dan Juara III SMAN 1 Pintu Pohan Meranti.
Lomba Martumba Juara I SDN 5 Balige, Juara II SD HKBP Balige dan  Juara III SD Sanfransiska Balige. Lomba Paduan Suara Juara I SMA HKBP 2 Tarutung,  Juara II SMKN 1 Laguboti dan Juara III SMAN 2 Balige.
Lomba Mangandung Juara I Manginar Sitorus, Juara II Luser Sianipar dan Juara III Novita Hutagaol.
dan pada acara ini terdapat juara istmewa yaitu Rahel Siahaan SD 173225 Balige.
Lomba Marhasapi juara I Artia Manurung dari Laguboti,  Juara II Indra Sibuea dari Labugoti dan Juara III Letur Sitorus dari Balige.
Pembagian hadiah dilakukan pada hari minggu 18 April 2010 di depan Gedung TB. Silalahi Center  dan ditutup oleh Bapak TB. Silalahi yang dihadiri oleh Sekda Prov. Sumut (RE. Nainggolan), Direktur Museum Direktorat Permuseuman (Dra. Intan Mardiana, M.Hum), Plt. Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Sumut, (Sudarno), Kepala Museum Negeri Prov. Sumut (Dra. Sri Hartini, M.Si)

Situs Dunia Di Sumatera Utara

Sumatera Utara kaya akan budaya, tradisi, adat dan peninggalan sejarah yang sangat berpotensi untuk digali lebih dalam baik untuk tujuan wisata maupun pendidikan. Peninggalan sejarah di Sumatera Utara sangat kaya akan nilai sejarah yang tidak dijumpai di daerah lain, dan memiliki hubungan atau kaitan dengan dunia luar. Pada Kesempatan ini Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara bekerjasama dengan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial UNIMED dan Balai Arkelogi Medan melakukan penelitian Situs yang berkelas Dunia di Sumatera Utara. dalam penelitian Tim menetapkan 8 (delapan) lokasi yang menjadi penelitian diantaranya, Situs Barus, Situs Kota Cina, Situs Pangkalan Brandan, Situs Kota Medan, Situs Bukit Kerang, Situs Benteng Putri Hijau, Situs Padang Lawas dan Situs Kota Rentang _Pulau Kampai. Kedelapan situs ini dianggap mempunya hubungan dengan luar Indonesia yaitu merupakan peninggalan atau memiliki jejak peninggalan negara-negara Eropa.
Penelitian ini dilakukan untuk menggali lebih dalam tentang 8 (delapan) situs dunia yang memiliki nilai sejarah yang mempunyai hubungan dengan jalur perdagangan dunia yang akhirnya akan mengetahi pusat perdagangan di Sumatera Utara pada tempo dulu juga untuk menggali dan meneliti sejarah yang terdapat pada situs tersebut.

Jumat, 25 November 2011

GEMPAR SUMUT 2011

Gema Pariwisata (GEMPAR) Sumatera Utara 2011

Pariwisata di Sumatera Utara sangatlah baik untuk dikembangkan mengingat di Sumatera Utara terdapat berbagai etnis yang tentunya sangat beragam dan memiliki budaya masing-masing etnis yang hasilnya menunjukkan akan kekayaan budaya Sumatera Utara.
Gema Pariwisata yang dilaksanakn pada tanggal 24 sd 26 Nopember 2011 ini dilaksanakan di lokasi Tapian Daiya Jl. Gatot Subroto Medan, acara ini di hadiri dari berbagai Kabupaten/Kota yang ada di Sumatera Utara. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara Drs. Naruddin Dalimunthe, MSP juga menyampaikan kata sambutan yang mengatakan sangat menyambut baik adanya acara seperti ini dan sangat positif juga menghimbau kepada para pelaku wisata dan kebudayaan agar terus meningkatkan dan dapat melestarikan kebudayaan yang dimiliki oleh Sumatera Utara.
Acara ini dibuka oleh Staf ahli Gubernur dan ditandai dengan pemukulan Gondrang Sambilan tanda dibukanya acara ini secara resmi. Dalam kegiatan pembukaan ini digelar berbagai acara seperti tarian dari berbagai etnis suku yang ada di Sumatera Utara, Lomba Fotografi, Mobil antik, dll
Kegiatan ini sudah merupakan kegiatan tahunan yang secara rutin dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan diharapkan dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini dapat meningkatkan kunjungan wisata baik dari wisatawan lokal maupun mancanegara yang masuk ke Sumatera Utara.

Rabu, 26 Oktober 2011

Kubur Batu (Sarkofagus) Di Samosir

Berbagai Jenis Kubur Batu (Sarkofagus) Di Samosir


Sarkofagus adalah peti kubur batu yang terdiri dari wadah dan tutup yang pada ujung-ujungnya terdapat tonjolan, masyarakat setempat menyebut batu sada, parholian ataupun paromasan.  Kubur peti  batu sarkofagus terdapat hampir di seluruh daerah di wilayah kabupaten Samosir, Toba Samosir,  Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan. Namun pesebaran kuburan bentuk ini  paling banyak terdapat di Pulau Samosir, sedangkan di Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan relatif sedikit, hanya ditemukan di beberapa tempat saja.

Hasil pengamatan dan penelitian di lapangan jumlah sarkofagus yang teridetifikasi sebanyak 49 sarkofagus, temuan di Samosir sebanyak 35 sarkofagus.
Adapun bentuk-bentuk Sarkofagus yang ada di Kabupaten Samosir adalah seperti yang terlihat dibawah ini 


Senin, 24 Oktober 2011

MANIK-MANIK CORNELIAN PULAU KAMPAI


HASIL SURVEY TEMUAN PERMUKAAN DAN EKSKAVASI TAHUN 2011





MANIK-MANIK KACA MONOKROM;
MANIK-MANIK INDO-PASIFIK

Manik-manik kaca, dan juga manik-manik dari batu merupakan salah satu temuan permukaan tanah yang sering ditemukan di Pulau Kampai. Tehnik tarik-potong kaca yang sangat khas dari kawasan Asia Selatan, baik dari Gujarat maupun dari Arikamedu, India (sejak abad ke-1 SM. Hingga abad ke-17 M.). Tehnik potong kaca tersebut menghasilkan bentuk potongan manic-manik kaca yang khas pula, yaitu; (a) pipa; silinder, (b) bulat pipih, dan (c) bulat, bahkan (d) bentuk kerucut ganda yang langka. Bentuk manic-manik tersebut sangat homogeny, dari yang besar 6 mm hingga yang keci lebih dari 1 mm.

Bentuk pipa (silinder) merupakan bentuk yang umum pada manic-manik kaca dari Pulau Kampai. Manik-manik kaca ini dalam terminology P. Francis dikenal sebagai manik-manik tipe ‘indo-pasifik’, (P. Francis, ‘Glass Beads in Asia Part Two, Indo-Pasifik Brads’, Asian Perspectifves 29; 1-23, 1990). Manik-manik kaca dibuat dengan tehnik tarik kaca, lalu dipotong. Warna polikrom (jenis polikrom satu warna) dengan pewarnaan menggunakan satu warna, yaitu; hitam, putih, kuning, coklar/merah (redwood), hijau giok, biru langit (trasnparan). Jenis polikrom hitam paling sering di ditemukan dalam jumlah yang paling banyak, lebih kurang 40 %, dari 109 temuan permukaan selama survey di Pulau Kampai, lalu diikuti polikrom kuning, coklat/merah rewood dan warna putih dalam jumlah sedikit.

Manik-manik kaca berupa pipa dengan kerucut dengan warna polikrom coklat/merah (redwood). Sebuah bentuk yang meniru manic-manik batu cornelian yang jarang diterapkan pada manik-manik kaca.



         
(Photografer Biliater Situngkir, Medan, 9;2011)

Manik-manik batu cornelian salah satu barang dagangan dibawa pedagang kaya chettyar India-Hindu atau Nina India-Islam. Batu indah atau permata dari Asia Selatan telah diperdagangkan kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-1 SM. hingga ‘Jaman Pertengahan”, pada abad ke-9 M hingga abad ke-14 M. Bahkan pada situs arkeologis dari ‘Jaman Pelayaran dan Perdagangan Dunia’ abad ke-16 M. hingga 17 M., biasa ditemukan, terutama di Sumatera.

Gujarat salah satu yang dikenal sebagai tempat penghasil batu permata di kawasan India banyak menghasilkan manik-manik batu jenis kornelian (Sumarah Adhyatman & Redjeki Arifin, 1993; 11).


MANIK-MANIK BATU CORNELIAN

Teknik potongan batu permata dengan membentuk manic dengan pengasah dan melubanginya dengan gurdi/bor dari dua arah. Tehnik ini sering menghasilkan bentuk potongan batu, terutama bentuk; (a) pipa/silinder polygonal, dan (c) bulat.

Jenis batuan kwarsitik berwarna merah, kadang bernuansa kekuningan atau orange yang bercampur sedikit warna putih dan coklat kehitaman. Jenis ba tuan ini mempunyai kekerasan 6,5-7 skala Mohs dan tergolong batu indah semi permata. Ukuran manik pipa/silinder polygon panjang 3 cm dan diameter 1 cm, sementara manik bulat berdiameter 1 cm.

Kornelian merupak salah satu jenis batuan kaca alami berwarna atau kuarsa yang indah, karena memiliki aneka warna dan cerah. Benda indah ini sangat disenangi di kawasan Nusantara, terutama Sumatera bagian Utara. Hal tersebut karena tradisi menggunakan manik-manik telah dikenal sejak sebelum manik-manik kaca diperkenalkan. Benda ini sejak jaman proto historis (pra sejarah akhir) telah dikenal sebagai perhiasan untuk memperindah tubuh dan sebagai benda yang dipercaya mendatangkan kebaikan.




Perdagangan Manik-Manik. Manik-manik kaca dan batu di Pulau Kampai merupakan barang dagangan ‘mewah’ yang sering diperdagangkan dalam jaringan pelayaran dan perdagangan antar benua pada ‘jaman pertengahan’, terutama dari abad ke-9 M. hingga abad ke-14 M. (800-1300-an M.). Pada masa ini para pedagang, perkumpulan dagang campuran Islam Timur Tengah dan India-Hindusme, dari India Selatan yang dilindungi penguasa Chola menjadi memonopoli kegiatan perdagangan di kawasan utara Sumatera. Meliputi kawasan Barus atau Fansury (Labu Tua dan Bukit Hasang), Lamuri-Aceh, Samudera Pasai-Aceh Utara, Pulau Kampai, Kota Rantang, Kota Cina, dan Benteng Putri Hijau. Mereka membangun jaringan kota pelabuhan disepanjang pantai barat hingga pantau timur di Sumatera bagian utara.  Kota-kota pelabuhan tersebut menjadi tempat menumpung ‘barang mentah’ hasil hutan baik floral (seperti getah harum barus dan kemenyan, serta tumbuhan pewarna dan kayu) maupun fauna (seperti cula badak dan gading gajah sumatera). Selain itu, sumatera yang kaya dengan emasnya menjadi tujuan utama para pedagang tersebut. Letak Sumatera melintasi Selat Malaka menjadi jalur utama pelayaran dari kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan menuju Kanton, Cina.
Temuan manik-manik di Pulau Kampai ditemuan ditemuan bersama dengan kerak logam jenis besi dan benda-benda dari kaca. Gelang kaca jenis ‘Chettyar’ hitam kehijauan salah satu temuan yang sering ditemukan dalam keadaan fragmentaris berukuran kecil. Selain itu juga banyak fragmen kaca Timur Tengah yang tipis dan banyak mengandung gelembung udara, sebagai akibat tehnik pembuatan dengan tiup kaca terbuka. Kaca-kaca itu berwarna kekuningan, hijau, dan biru. Bentuk kaca ini masih sulit diperkirakan, namun referensi dari Labu Tua Barus menunjukkan fragmen seperti ini biasanya berupa botol berukuran kecil, seperti bolol ‘farfun’ (Claude Guillot, BARUS Seribu Tahun yang Lalu, KGB, Jakarta, 2008).
Temuan mangkuk-mangkuk keramik Cina menempati temuan terbanyak di Pulau Kampai, hamper 75 % dari keseluruhan temuan yang diamati di permukaan tanah. Jenis batuan seladon dengan warna glasir putih kebiruan dan hiasan gores pola sisir berupa bunga salah satu jenis yang sering ditemukan. Selain itu juga ditemukan tempayan dengan glasir coklat dan telinga kecil horizontal.
Temuan lain berupa tembikar dari Timur Tengah dengan bahan yang bertekstur sangat halus dan rapuh serta mengandung temper (bahan campuran) tembikar yang dihancurkan menjadi halus. Bahan berwarna krem hingga merah jampu pastel dan kadang di cat dengan slep warna merah. Temuan tembikar dari Pulau Kampai berupa fragmen sangat berukuran kecil. Namun berdasarkan referensi dari situs-situs lain di Sumatera, terutama Labu Tua, Barus (Claude Guillot, 2008), dapat diperkirakan bentuknya. Tembikar ini umumnya berbentuk kendi dengan cerat kerucut yang lurus dan panjang, badan diperkirakan bulat telur atau oval, sementara bagian bibir dan leher yang tinggi dengan hiasan cincin (ring).
Claude Guillot dan timnya melakukan penelitian arkeologis di Labu Tua, Barus tahun 1995-2000 berkesimpulan, bahwa kota-kota pelabuhan itu bersifat otonom terlepas dari pengaruh penguasa tunggal di Sumatera waktu itu, Sriwijaya-Malayu. Kota-kota pelabuhan menyebutnya sebagai republik kota pelabuhan yang diatur dengan system pemerintahan otokrasi dalam suatu dewan yang terdiri dari para pedagang kaya. (Deddy Satria, Arkeolog Independen Aceh)





Situs Pulau Kampai

Foto Peninggalan Sejarah di Pulau Kampai













Batu Kornelian
Kalung Manik-manik


Jumat, 07 Oktober 2011

Jenis Ulos Batak

Kain Tenun

Sejak masa prasejarah manusia telah mengenal pakaian yang dibuat dari kulit kayu atau binatang yang digunakan untuk menutup aurat, kemudian kegunaannya dirasakan semakin penting untuk pelindung tubuh dari cuaca, gangguan binatang kecil dan tumbuh-tumbuhan yang membahayakan. Sejalan dengan perkembangan kebutuhan ketingkat ingin mengekspresikan kebudayaan yang paralel dengan kepercayaan dan unsure-unsur lainnya maka bahan baku untuk pakaian juga berkembang seiring dengan ditemukannya kapas yang tumbuh subur di Indonesia. Kapas merupakan bahan dasar benang katun yang paling banyak digunakan untuk pembuatan kain tenun di Indonesia
Demikian juga dengan suku batak membuat kain tenun untuk kebutuhan, tidak hanya untuk menutup bagian tubuh tetapi juga untuk sarana upacara tradisional. Suku batak yang terbagi 5 (lima) sub suku bangsa menamakan tenunannya dengan ulos (Batak Toba), Uis (batak karo),  Hiou (batak simalungun), Oles (batak pakpak dairi), Abit (batak angkola mandailing)
Nama dan motif pada setiap jenis tenun mempunyai perbedaan, begitu juga fungsi dan nilai simbolis yang dimiliki. Hal ini sesuai dengan kepercayaan dan adapt istiadat suku bangsa tersebut.
Warna yang dipakai biasanya merah, hitam, coklat dan biru tua, ditenun dengn teknik ikat lungsi, motif belah ketupat dan ujung panah dan motif lutik-lutik dikombinasikan dengan hiasan teknik jungkit (pohon tambahan) menggunakan benang katun motif sulur, daun, bunga dan motif geometris
Peranan kain tenun sangat penting dalam setiap upacara tradisional seperti upacara kelahiran, perkawinan, kematian, memasuki rumah baru, dll
Berbagai ragam, jenis dan motif serta fungsi kain tersebut akan diurutkan dibawah ini.


Jenis - Jenis Ulos Batak Toba

Ulos Napinunsaan

Ulos Bittang Maratur





Ulos Ragi Hotang
Ulos Ragi Idup Haid

Ulos Ragi Idup
Ulos Sadum
Ulos Sadum



Ulos Sadum

Ulos Pinarpusorani Pinar Lobu-Lobu
Ulos Sadum Parompa

Ulos Tumtum


Ulos Napinunsaan
Ulos Parompa

Ragam Kebudayaan Batak


 Budaya Batak Toba
- Simin/Tambak (Kuburan)
- Upacara Horja Bius
- Upacara Mangalahat Horbo
- Ulos Batak
- Makanan Khas Batak Toba





Budaya Batak Karo














Budaya Batak Simalungun
- Rumah Tradisional Simalungun


Jumat, 12 Agustus 2011

Tambak/Simin


Tambak/Simin (Kuburan) Pada Suku Batak Toba 


Pembangunan  tambak pada masyarakat Batak Toba sudah dilakukan sejak lama sebelum masuk dan berkembangnya agama Kristen di daerah ini.  Ditemukannya bangunan kubur batu (paromasan) sarkofagus, tempayan batu, kubus batu dan pahatan batu  menjadi indikasi bahwa tradisi penguburan ini merupakan hasil budaya masyarakat pada masa megalitik yang berasal dari 3000 SM . Tradisi ini menerangkan kehidupan yang bersumber pada kepercayaan terhadap nenek moyang yang sampai sekarang pengaruhnya masih dirasakan di berbagai daerah khususnya Pulau Samosir

Sebelum mendapat pengaruh agama Kristen, orang Batak Toba percaya kekuatan roh leluhurnya. Adanya kepercayaan terhadap kekuatan  roh leluhurnya  atau nenek moyangnya  menjadi dasar  timbulnya aturan mengenai peraturan mayat dalam kematian serta upacara penguburannya. Roh leluhur yang  mati terutama mate sarimatua dan mate saurmatua dipercaya dapat memajukan kesejahteraan, memberikan perlindungan dan memberikan rejeki yang melimpah kepada keturunannya, serta menjauhkan segala  mara  bahaya.

Secara umum orang Batak Toba melakukan  dua kali penguburan untuk orang meninggal  dalam keadaan mate sarimatua dan mate saumatua. Penguburan pertama (penguburan primer) langsung dilakukan setelah orang meninggal dengan mengubur di dalam tanah dengan menggunakan peti atau dalam intilah daerah disebut abal-abal.   Penguburan kedua (penguburan sekunder) dilakukan setelah kurun waktu tertentu bisa tiga, sampai  lima tahun atau lebih dengan melakukan penggalian tulang belulang neneknya yang dikubur untuk ”dinaikkan” ke bangunan  yang lebih monumental (Batu napir, tambak na timbo). Pelaksanaan penggalian tulang belulang disertai dengan upacara adat yang disebut mangongkal holi.   

 Pada awalnya penguburan pertama (penguburan primer) dilakukan dengan penguburan jenasah ke dalam tanah.  Sebagai tanda agar kuburan tidak hilang maka di atas kuburan tersebut   ditanam pohon keras jenis hariara, jabi-jabi, baringin, bintatar. Ada juga kuburan jenis ini sekaligus berfungsi sebagai kuburan yang permanen, tulang belulangnya tidak digali lagi karena sudah menyatu dengan pohon yang  sudah tumbuh besar.  Peninggalan jenis kuburan seperti ini sampai sekarang masih banyak ditemui di lapangan.

Penguburan kedua (penguburan sekunder) dilakukan  dengan membuat batu napir, tambak na timbo dari bahan batu alam  sebagai tempat penguburan tulang belulang disebut batu sada  bentuk sarkofagus, tempayan batu, kubus batu, pahat batu. Hanya kaum bangsawan dan tokoh masyarakat yang dapat  membuat batu sada atau  sarkofagus, sebab untuk membuat sarkofagus diperlukan biaya yang sangat besar disertai dengan upacara-upacara adat, dan kegiatan ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang tingkat sosial dan ekonominya tinggi.

Tradisi penguburan ini terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu, teknologi dan agama. Dikenalnya bahan semen yang diperoleh dengan mudah serta efektif, dan tahan lama menyebabkan   pembangunan tambak semakin marak, dan   bentuknya beragam, semakin indah dan megah. Hal ini juga disebabkan membangun tambak tidak lagi didominasi oleh kaum bangsawan, tetapi oleh siapa saja yang penting dari segi sosial ekonomi mampu membangun tambak bagi nenek moyangnya.

Pada umumnya bentuk dan struktur tambak pada era ini berhubungan dengan latar belakang sejarah nenek moyangnya atau  leluhurnya. Pada bangunanya  rata-rata masih memperlihatkan unsur-unsur tradisional, ditambah dengan  atribut agama Kristen.  Penguburan primer dan sekunder masih tetap dilakukan, perbedaannya penguburan primer (penguburan langsung) selain  dikubur di dalam tanah,  bisa dilakukan dengan memasukkan jenasah orang yang meninggal  langsung ke dalam bangunan tambak modern. Letak jenasah  umumnya di bagian dasar bangunan yang bentuknya kubus. Jenasah yang langsung dimasukkan ke dalam bangunan tambak modern  kelak   pada masa tertentu bisa tiga, empat, lima tahun atau lebih  dilakukan pengangkatan tulang belulang untuk ”dinaikan” ke tingkat yang lebih tinggi  dalam bangunan yang sama. Jika  penguburan primer (penguburan langsung) dilakukan dengan mengubur jenasah di dalam tanah, umumnya di atas gundukan (lapisan tanah) di atas kuburan tersebut ditanam jenis pohon oppu-oppu berupa bunga bakung dan sere dan hatunggal yang fungsinya sebagai tanda aga tidak hilang.

  

 Makna Tambak  Pada masyarakat Batak Toba
Telah diuraikan di muka bahwa makna tambak pada masyarakat Batak Toba disesuaikan dengan makna, fungsi dan tujuannya. Dari hasil wawancara menunjukkan bahwa tambak tercipta dari hasil ide, gagasan yang terdapat dalam alam pikiran mereka, dan hasil aktifitas perbuatan atau hasil karya manusia.  Oleh sebab itu tambak sebagai budaya materi merupakan hasil ide, gagasan dan aktifitas serta karya orang Batak Toba, mempunyai arti dan fungsi yang penting dalam kehidupan sebagian orang Batak Toba terutama dalam hubungannya dengan sistem kepercayaan. Melalui interpretasi terhadap atribut fisik yang terdapat pada bangunan tambak dan dihubungkan dengan sistem kepercayaan, lingkungan, dan sosial budaya masyarakat pendukungnya maka  akan dapat diungkapkan  arti simbolik dan fungsi sosial.

Selasa, 02 Agustus 2011

Bimbingan Teknis Guru-Guru Sejarah

 Bimbingan Teknis Guru-Guru Sejarah Tingkat SLTP dan SLTA Provinsi Sumatera Utara

  Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara yang berperan dalam pelestarian budaya khususnya Sumatera Utara selalu membuat dan mengembangkan ide-ide dalam pelestarian budaya baik dalam penelitian, penyajian dan pelestarian dan juga penyampaian berupa bimbingan pada masyarakat.

Dalam kesempatan ini Museum Negeri Prov. Sumatera Utara menyelenggarakan Bimbingan Teknis Guru-Guru Sejarah Tingkat SLTP dan SLTA Provinsi Sumatera Utara bertempat di Hotel Danau Toba Internasional yang dilaksanakan selama 2 (dua) hari yaitu pada tanggal 27 - 28 Juli 2011.
Kegiatan ini di ikuti oleh 85 Guru-Guru sejarah yang berasal dari berbagai daerah di Sumatera Utara, Kegiatan ini di hadiri oleh Direktur Nilai Sejarah Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata ( Drs. Sabri)
Kegiatan diisi dengan berbagai acara yaitu seminar, diskusi kelompok dan mengunjungi objek tempat sejarah seperti Gallery Rahmatsyah dan Museum Negeri Prov. Sumatera Utara.
Kegiatan ini dimaksudkan agar para guru-guru sejarah dapat mengenal dan lebih mencintai sejarah khususnya di Sumatera Utara dan diharapkan dapat menerapkannya terhadap anak didik yang berada dilingkungannya masing-masing.

Ikuti Lomba Puisi Perjuangan 2019

LOMBA BACA PUISI PERJUANGAN TINGKAT UMUM SE - KOTA MEDAN DI MUSEUM NEGERI PROV. SUMATERA UTARA MEDAN, 15 AGUSTUS 2019 Dalam ...