Senin, 24 Oktober 2011

MANIK-MANIK CORNELIAN PULAU KAMPAI


HASIL SURVEY TEMUAN PERMUKAAN DAN EKSKAVASI TAHUN 2011





MANIK-MANIK KACA MONOKROM;
MANIK-MANIK INDO-PASIFIK

Manik-manik kaca, dan juga manik-manik dari batu merupakan salah satu temuan permukaan tanah yang sering ditemukan di Pulau Kampai. Tehnik tarik-potong kaca yang sangat khas dari kawasan Asia Selatan, baik dari Gujarat maupun dari Arikamedu, India (sejak abad ke-1 SM. Hingga abad ke-17 M.). Tehnik potong kaca tersebut menghasilkan bentuk potongan manic-manik kaca yang khas pula, yaitu; (a) pipa; silinder, (b) bulat pipih, dan (c) bulat, bahkan (d) bentuk kerucut ganda yang langka. Bentuk manic-manik tersebut sangat homogeny, dari yang besar 6 mm hingga yang keci lebih dari 1 mm.

Bentuk pipa (silinder) merupakan bentuk yang umum pada manic-manik kaca dari Pulau Kampai. Manik-manik kaca ini dalam terminology P. Francis dikenal sebagai manik-manik tipe ‘indo-pasifik’, (P. Francis, ‘Glass Beads in Asia Part Two, Indo-Pasifik Brads’, Asian Perspectifves 29; 1-23, 1990). Manik-manik kaca dibuat dengan tehnik tarik kaca, lalu dipotong. Warna polikrom (jenis polikrom satu warna) dengan pewarnaan menggunakan satu warna, yaitu; hitam, putih, kuning, coklar/merah (redwood), hijau giok, biru langit (trasnparan). Jenis polikrom hitam paling sering di ditemukan dalam jumlah yang paling banyak, lebih kurang 40 %, dari 109 temuan permukaan selama survey di Pulau Kampai, lalu diikuti polikrom kuning, coklat/merah rewood dan warna putih dalam jumlah sedikit.

Manik-manik kaca berupa pipa dengan kerucut dengan warna polikrom coklat/merah (redwood). Sebuah bentuk yang meniru manic-manik batu cornelian yang jarang diterapkan pada manik-manik kaca.



         
(Photografer Biliater Situngkir, Medan, 9;2011)

Manik-manik batu cornelian salah satu barang dagangan dibawa pedagang kaya chettyar India-Hindu atau Nina India-Islam. Batu indah atau permata dari Asia Selatan telah diperdagangkan kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-1 SM. hingga ‘Jaman Pertengahan”, pada abad ke-9 M hingga abad ke-14 M. Bahkan pada situs arkeologis dari ‘Jaman Pelayaran dan Perdagangan Dunia’ abad ke-16 M. hingga 17 M., biasa ditemukan, terutama di Sumatera.

Gujarat salah satu yang dikenal sebagai tempat penghasil batu permata di kawasan India banyak menghasilkan manik-manik batu jenis kornelian (Sumarah Adhyatman & Redjeki Arifin, 1993; 11).


MANIK-MANIK BATU CORNELIAN

Teknik potongan batu permata dengan membentuk manic dengan pengasah dan melubanginya dengan gurdi/bor dari dua arah. Tehnik ini sering menghasilkan bentuk potongan batu, terutama bentuk; (a) pipa/silinder polygonal, dan (c) bulat.

Jenis batuan kwarsitik berwarna merah, kadang bernuansa kekuningan atau orange yang bercampur sedikit warna putih dan coklat kehitaman. Jenis ba tuan ini mempunyai kekerasan 6,5-7 skala Mohs dan tergolong batu indah semi permata. Ukuran manik pipa/silinder polygon panjang 3 cm dan diameter 1 cm, sementara manik bulat berdiameter 1 cm.

Kornelian merupak salah satu jenis batuan kaca alami berwarna atau kuarsa yang indah, karena memiliki aneka warna dan cerah. Benda indah ini sangat disenangi di kawasan Nusantara, terutama Sumatera bagian Utara. Hal tersebut karena tradisi menggunakan manik-manik telah dikenal sejak sebelum manik-manik kaca diperkenalkan. Benda ini sejak jaman proto historis (pra sejarah akhir) telah dikenal sebagai perhiasan untuk memperindah tubuh dan sebagai benda yang dipercaya mendatangkan kebaikan.




Perdagangan Manik-Manik. Manik-manik kaca dan batu di Pulau Kampai merupakan barang dagangan ‘mewah’ yang sering diperdagangkan dalam jaringan pelayaran dan perdagangan antar benua pada ‘jaman pertengahan’, terutama dari abad ke-9 M. hingga abad ke-14 M. (800-1300-an M.). Pada masa ini para pedagang, perkumpulan dagang campuran Islam Timur Tengah dan India-Hindusme, dari India Selatan yang dilindungi penguasa Chola menjadi memonopoli kegiatan perdagangan di kawasan utara Sumatera. Meliputi kawasan Barus atau Fansury (Labu Tua dan Bukit Hasang), Lamuri-Aceh, Samudera Pasai-Aceh Utara, Pulau Kampai, Kota Rantang, Kota Cina, dan Benteng Putri Hijau. Mereka membangun jaringan kota pelabuhan disepanjang pantai barat hingga pantau timur di Sumatera bagian utara.  Kota-kota pelabuhan tersebut menjadi tempat menumpung ‘barang mentah’ hasil hutan baik floral (seperti getah harum barus dan kemenyan, serta tumbuhan pewarna dan kayu) maupun fauna (seperti cula badak dan gading gajah sumatera). Selain itu, sumatera yang kaya dengan emasnya menjadi tujuan utama para pedagang tersebut. Letak Sumatera melintasi Selat Malaka menjadi jalur utama pelayaran dari kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan menuju Kanton, Cina.
Temuan manik-manik di Pulau Kampai ditemuan ditemuan bersama dengan kerak logam jenis besi dan benda-benda dari kaca. Gelang kaca jenis ‘Chettyar’ hitam kehijauan salah satu temuan yang sering ditemukan dalam keadaan fragmentaris berukuran kecil. Selain itu juga banyak fragmen kaca Timur Tengah yang tipis dan banyak mengandung gelembung udara, sebagai akibat tehnik pembuatan dengan tiup kaca terbuka. Kaca-kaca itu berwarna kekuningan, hijau, dan biru. Bentuk kaca ini masih sulit diperkirakan, namun referensi dari Labu Tua Barus menunjukkan fragmen seperti ini biasanya berupa botol berukuran kecil, seperti bolol ‘farfun’ (Claude Guillot, BARUS Seribu Tahun yang Lalu, KGB, Jakarta, 2008).
Temuan mangkuk-mangkuk keramik Cina menempati temuan terbanyak di Pulau Kampai, hamper 75 % dari keseluruhan temuan yang diamati di permukaan tanah. Jenis batuan seladon dengan warna glasir putih kebiruan dan hiasan gores pola sisir berupa bunga salah satu jenis yang sering ditemukan. Selain itu juga ditemukan tempayan dengan glasir coklat dan telinga kecil horizontal.
Temuan lain berupa tembikar dari Timur Tengah dengan bahan yang bertekstur sangat halus dan rapuh serta mengandung temper (bahan campuran) tembikar yang dihancurkan menjadi halus. Bahan berwarna krem hingga merah jampu pastel dan kadang di cat dengan slep warna merah. Temuan tembikar dari Pulau Kampai berupa fragmen sangat berukuran kecil. Namun berdasarkan referensi dari situs-situs lain di Sumatera, terutama Labu Tua, Barus (Claude Guillot, 2008), dapat diperkirakan bentuknya. Tembikar ini umumnya berbentuk kendi dengan cerat kerucut yang lurus dan panjang, badan diperkirakan bulat telur atau oval, sementara bagian bibir dan leher yang tinggi dengan hiasan cincin (ring).
Claude Guillot dan timnya melakukan penelitian arkeologis di Labu Tua, Barus tahun 1995-2000 berkesimpulan, bahwa kota-kota pelabuhan itu bersifat otonom terlepas dari pengaruh penguasa tunggal di Sumatera waktu itu, Sriwijaya-Malayu. Kota-kota pelabuhan menyebutnya sebagai republik kota pelabuhan yang diatur dengan system pemerintahan otokrasi dalam suatu dewan yang terdiri dari para pedagang kaya. (Deddy Satria, Arkeolog Independen Aceh)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ikuti Lomba Puisi Perjuangan 2019

LOMBA BACA PUISI PERJUANGAN TINGKAT UMUM SE - KOTA MEDAN DI MUSEUM NEGERI PROV. SUMATERA UTARA MEDAN, 15 AGUSTUS 2019 Dalam ...